Excerpt for
LOREM IPSUM by
Juna Firmansyah, available in its entirety at
Smashwords
INTRODUCING
LOREM IPSUM oleh Juna Firmansyah
Hak cipta
Juna Firmansyah, 2011
www.facebook.com/jun.legend
Buku ini dibuat oleh penulis sebagai metode self healing berdasarkan pendekatan psikologi bahwasanya dengan menulis segala beban pikiran akan mengurangi potensi depresi. Penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa tokoh,diantaranya Prof. DR. Sigmund Freud (untuk literatur dan jurnal tentang psikoanalisa serta psikoseksual), Prof. DR. Achmad Mubarok MA, Guru besar Psikologi Islam Univeritas Indonsia (untuk artikel korelasi psikologi dan metafisika), Nazriel Irham, Chris Martin, John Mayer, Jammie Cullum, Norah Jones (untuk lirik yang sangat luar biasa), Plato (untuk bukunya The Republic) Mario Teguh, Arswendo Atmowiloto, Sudjiwo Tedjo dan Yuyun Yuliani (untuk bukunya It's Me Mutisme Elektif) merekalah yang berjasa memberi pengaruh dalam menulis untuk buku ini.
Serta untuk wanita yang telah menjadi inspirasi dalam tulisan ini antara lain Anita Agustin (untuk pelajaran hidup tentang ketulusan), Anandiza Putri, SASTIANA, Resthy Sugiharti dan beberapa wanita lain yang tidak bisa disebutkan penulis.
Contents
Introducing
Chapter II Benang Trauma
Chapter III Sebuah Ketika
Chapter IV Presiden Republik Odong-odong
Chapter V Masyarakat Daun Kering
Chapter VI Siul Sabtu Malam
Chapter VII Tangkai Doa
Chapter VIII Dongengku Terima Kasih
Chapter XIV Kabar + +
Chapter X Sastiana
Chapter XI Secangkir Teh di Sore April
Chapter XII Kopi Sisa Kemarin
Chapter XIII Bahasa Tak Berkata
Chapter XIV Tuhanku Bukan Telunjuk
Chapter XV Penis Monologue
Chapter XVI Bukan Berhenti Tapi Ingin Sekedar Bertepi
Chapter XVII Mucikari Hati
Chapter XVIII Bawa Aku Pulang
MENGURAI BENANG TRAUMA
Ku hanya menangis terpojok dikamar itu
Begitu gaduh beling-beling terpecah
Ego dari tangan dan mulut mereka yang tak mau peduli
Oh beginikah manusia dewasa menyelesaikan masalah
Bocah lima tahun pantaskah dijejali masalah yang tak dimengerti
Rumit sulit dipahami dan semakin nyaring tangisku
Sepiring nasi dan telur dadar tetangga menyuapiku
Sembari menghela nafas dan terasa hangat bisiknya di telingaku
Sabar nak kau tak harus memahami, itu bukan tugasmu
Butuh dua puluh tahun untuk memahami
Si pria memandangi kas berisi banyak bungkus rokok kosong
Dan dengan teganya yang katanya sang surga berjalan dengan yang lain
Cukup membuatku tolol dengan sekotak teh manis
Demi tuhan kubenci keluarga ini
Tak ada teladan untuk menjadi lelaki
Tak ada surga untuk kuciumi
Dan kelak
Jadikan aku sebagai suami yang baik
Ayah yang bijaksana
Keikhlasan dalam memberi
Kelegaan saat memaafkan
Kesederhanaan ketika berlayar
Dan ingatkan aku jika kayuhnya patah
Agar sejarah tak terulang
Namun lidi itu membekas diruang dendamku
SEBUAH KETIKA
Ketika melakukan hal terbaik
Tapi tidak menunjukkan hasil
Ketika mendapatkan apa yang kita inginkan
namun itu bukan apa yang dibutuhkan
Ketika air mata mengucur deras di pipimu
Ketika kehilangan sesuatu namun tak dapat kau kembalikan
Ketika mencintai seseorang namun kemudian
sadar itu hanya sebuah kesia-siaan
Bisakah kita jika kita ingin?
Meninggi untuk terjatuh dan belajar
Satu jawabku untukmu cahaya akan menuntunmu
Kau tidak akan mengetahuinya jika tidak
mencobanya
Ketika bercerita tak ada telinga yang bersedia
mendengar
Ketika kau merasa benar-benar sendiri tak berkawan
Ketika bingung tak ada yang harus dilakukan
Cobalah untuk sekedar mengetahui
Cahaya akan menuntunmu
PRESIDEN REPUBLIK ODONG-ODONG
Dengarkanlah musik yang ku alaunkan
Sesegera mungkin akan ku kayuh
Jangan berharap untuk bisa maju
Hanya bergoyang asal saja kalian bahagia
Kalian adalah daun mati
Ku sapukan
Ku kumpulkan kalian
Memang susah bila diikat
Berisik dan mudah pula dibakar
Dengan sedikit represi telunjukku
Kabar dari nyanyian di kerumunan
Sang raja telah habis
Tapi panglima-panglima berkerah kuning yang
masih tersisa
Tetap berkoar berteduh di beringin rindang
Rasakan sorot dingin dimata seterumu
Semenit memegang kunci
Mereka berujar tembok berikutnya semakin
dekat teraba
Revolusi !
Politik akan berevolusi
Atas nama rakyat umpan menangkap kursi
Setelah jumawa duduk
Lempar baju sembunyi dasi
kejujuran diakuisisi oleh kepentingan
ada di gedung parlemen
Entah sedang apa disana
Rapat komisi atau hanya sekedar bagi-bagi
komisi ?
Alangkah lucunya republikku ini
MASYARAKAT DAUN KERING
Telenovela politik episode baru segera dimulai
Tribharata tiga menggaruk
Ruam menjalar kemana-mana
Genderang perang bintangpun sudah ditabuh
Tikus-tikus sibuk beralibi
Jegal saja dengan kode etik profesi ujar sang perwira
Si botak tukang jilat mencibir di rapat dengar
pendapat
Tapi lihat sekarang
Tersibak satu per satu
Ada benang yang semakin jelas merah
Kali ini kaum muda sunyi
Tidak seperti biasanya orasi sana-sini
Kita masyarakat
Kita jaga
Kita kawal kebenaran
Kita bijak
Kita jangan jadi masyarakat daun kering
Mudah dikumpulkan
Susah diikat
Berisik
Dan mudah dibakar
SIUL SABTU MALAM
Bosan menunggu kata nanti
Keburu perjakaku diperkosa alur malam
Sambut aku di siluet timur bulan
Sebelum kerut keningku seperti seorang werda
Lihat senyum dinginku,memesona bukan?
Tapi kenapa
Tak kunjung
Tidak pula bisa
Mungkin aku terlalu pemilih
Tidak ada sosok korban dalam sebuah pengorbanan
Rasa dari perasaan
Telah kulakukan itu
Bahkan berulang kali
Semoga sabtu besok akan lain ceritanya
Ada tangan yang bersedia kugenggam
Ada bibir yang bersedia kucium
Hati yang dimahkotai
Dan hari bersedia dijamahi waktu
Aku hari
Engkau waktu
Mustahil terpisah walau sepersekian detikpun
TANGKAI DOA
Sebentar saja mengenalmu ada cerita semalam tentang apa yang kita perbincangkan
Izinkan berkelakar,menulis dan menalaah.
Engkau berkata ingin lebih jauh mengenalku maka
aku akan sedikit menerka
Ibu sedang bersenandung di Surga 'Putriku yang cantik pusara waktu telah memisahkan kita'
memisahkan kita begitu singkat,temui aku disini
ada gaun putih untukmu
Ini kukabarkan
Agar tersampaikan
Seka air matamu kemudian bakar tisunya biar dilahap angin sayu
Memang ini berat
Namun engkau hebat
Sesekali tengoklah malam
Ibu akan jatuhkan satu bintang
Bintang yang ranum peri kecilku
Ambil satu tangkai lalu tancapkan di tanah
Berdiri ! dan buat Ibu tersenyum
Perpisahan ini sementara
Bila tiba saatnya,kita dipertemukan
Mari kita cicipi masa-masa yang pernah hilang
Ingat satu tangkai jika rindu ibu
Tangkai yang mampu menempuh beda dimensi
Tangkai itu doa
Tersenyum nak !
DONGENGKU TERIMA KASIH
Dongengku terima kasih
Ketidakpastian mendamparkanku disini
Celoteh angin membisiku untuk bertahan
Hambar menanti hujan reda
Menunggu semesta berwarna sayu
Belah saja langitnya
Dimana kopiku
Teman melamun sore ini
Malam telatlah datang
Semoga bisa terlupa
Karena memang ku tak pantas
Bibir ranumku diolesi tawa sandiwara
Memaksakan berlari padahal kaki ringkih berdiri
Dongengku terima kasih
Telah menyajikan banyak waktu untuk menunggu
Percayalah ini semua tentang mencari arti
Bukan jawaban atas pertanyaan
Pun sebaliknya
kisahku
Mudahkanlah
Permudah
Terlupa
Untuk melupakan
KABAR + +
Kuganti sandal dengan sepatu
Agar lebih kencang berlari
Kuganti lilin dengan lampu
Agar lebih terang memandangi
Kuganti bambu dengan kayu
Agar lebih kokoh berdiri
Ketika terus berlari dan sesekali terjatuh
ya biarlah
Jika harus terus menanti tapi ku takkan terhenti
apalagi berhenti
Ada lubang kecil tersembunyi disorot mata
manusia
terpuaskan
Selalu mencari ketika sudah menemukan hanya
sepintas menikmati dan kemudian mencari lagi
Hidup seolah rentetan perulangan peristiwa-
peristiwa yang membosankan
Enggan menyesuaikan dengan keadaan baru
Menggulirkan dadu untuk menebak esok hanya
sekedar saja
Mendengar bisik angin tak karuan untuk memutuskan
Proses menguji kekenyalan mental
pahami kebenaran yang kau yakini dan tugasmu
menceritakan
Sungkan
Risau
Takut
Padamkan dulu logika
Kenapa langit tidak biru dikala malam,tetapi
bintang terkadang kurang ajar muncul di terik
siang
menengadah dahi bercumbu dengan matahari
Awan beraneka bentuk karena imajinasi pikir
Usah pecahkan kaca jika tak ingin bercermin
Tibalah pada satu titik renung
Untuk apa lebih kencang berlari
Untuk apa lebih terang memandangi
Dan untuk apa lebih kokoh berdiri
Jika belum tahu alur hidup
pencarian hidup adalah apa apa yang sebelumnya pernah kau temukan
SASTIANA
Ketika kukembali disini
Biarkan yang terbaik yang terjadi
Sastiana oh Sastiana
Jangan dulu anggur sungguh tak ingin mabuk saat itu
Abaikan saja ham iga merah
Separuh baya bertautan dipojok ruang seberang
Mengayun,berhentak
Entah lagu apa ini
Matamu di malam itu
Adakah yang lebih indah darimu ketika kau brgaun jingga
Jangan pedulikan mereka
Silangkan lenganmu dibahuku
Tidakkah malam ini malam kita
Tepat hari ini di lima tahun yang lalu
Suara hening piano di malam itu
Mustahil lupa tentang matamu
Merona
Bak batu safir diterpa matahari
Kurasakan betul bisikan lembut ditelingaku "sempurnakan indahku"
SECANGKIR TEH DI SORE APRIL
Jangan berbisik di telinga yang tuli
Coba terjemahkan sorot mataku
Sore dibulan April
Secangkir teh temanku bertanya
Memang pekat
Mereka tak sanggup menjawab
Dan untuk apa dipertanyakan
Kutelan saja sendiri
Ah ternyata aku masih waras
Jika saja ada sudut dibelahan planet bumi ingin ku bersembunyi
Sibuk mondar-mandir di alam rencana
Enggan sekali untuk hijrah
Sore sore seterusnya sajikan aku teh lagi
Sebelum malam malam semakin tak berbintang
KOPI SISA KEMARIN
Kemana hidup bisikkan saja pada angin
Lingkari seutas garis
Jatah umur begitu singkat
Tidak banyak waktu untuk mencari
Menulis kias di dinding bejana malam
Sesering pena wakili lidah
Esok
Lusa
Bahkan hari yang lalu akupun lupa
Hanya gaun jingga yang mampu kuingat
Balutan kisah sempat bersemayam
Orang tolol menyebutnya Cinta
Lima tahun berlalu
Coba lihat jari manisnya sekarang
Dengan siapa?
Andai dulu kukatakan
Mungkin kau tak dengannya
Ya sudahlah
Ini tidak seberapa
Telah banyak sakit yang kucicipi
Pasti lupa lagi
Pagi semoga telat datang kali ini Kopi tak ada
lagi
Sakit bila harus terus mengingat
Entah dengan apa kujinakkan ingatanku
Sisa kisah masa lalu
BAHASA TAK BERKATA
Menanti yang akan tiba,meratapi langit lihatlah planet_planet
bergerak pada kecepatan cahaya,remah-remah
bintang semuanya tak bernama.Tunjuk satu
diantaranya dan rasakan hangatnya di
jemarimu,setiap saat bersenggama dengan batang hidung
jempol kaki itulah yang mereka namakan
hidup.bersyukur kewarasan masih betah dikepala
aku dan mereka,musim berganti menuakan waktu
namun belum tentu dewasa kemudian aku.Hasil
jangan dijadikan akhir,proses akan
dipertanyakan,serta betapa jawaban seringkali
bukan bahasa yang berkata,biarkanlah hanya Aku
dan ?
TUHANKU BUKAN TELUNJUK
Aku hanya serdadu kecil yang tak pandai berbahasa
menenggelamkan setengah tubuh dalam sebuah
danau,ingin kurasakan hangatnya lelehnya
mentari dikala dia membenam di kuningnya
senja.Aku ingin memetik satu bintang ranum
ketika tabuh genderang dan bendera peperangan
terkibar,tameng jadi perisai sabetan liar mata
tombak mereka.Tak kuasa mengelak perintah
sang panglima,kurasakan pandangan sinis mata
musuh-musuhku aku terus berlari memburu geletakan prajurit lawan
jembatan menuju singgasana.Benteng pertahanan
perlahan retak hingga tergoyah melalui dobrakan
hati yang tersakiti.Kaisar lama telapak kakinya
bersarang diatap harap rakyat,mereka muak
dengan telunjuknya,itu bukanlah tuhanku berujar dari mulut mereka
memungut remah sejarah untuk sebuah perubahan" aku hanya serdadu kecil yang
bermimpi jadi kaisar walaupun darah bersyarat
untuk mata uang mahalnya pembayaran yang
dinamakan revolusi
PENIS MONOLOGUE
Tok tok tok tok!!! Bolehkah aku masuk
Bolehkan? Boleh dong? Toh si bulan yg lagi
jaga,si matahari udah tidur katanya kelelahan.
Enak lho kalo bertamu malam! Apa?boleh?asyik!
Cepetan dong buka pintunya! Aku ada sedikit
oleh-oleh nih dari si Nafsu,tiket tamasya ke surga
pintunya? Waduh jadi bingung,kamu yg menjepit
kok malah kamu yg keenakan.bingung deh
jadinya,tadi kan ga hujan tapi rumahmu becek
banget sih,apa?apa?! Oh karena udah tahu aku
mau bertamu yah! Knp? Ruang belakangmu mau disinggahi juga?
itu tidak senonoh,lagipula aku kan bukan tamu yang
menyimpang! Aku sudah lama lho pengen ke
rumah mu,terkadang tangan nakalku ini suka
memaksa.sudah dulu yah aku mau keluar
nih,capek juga berkunjung kerumah mu ini
Besok aku bertamu lagi yah,tapi kamu yang bakal mengundang aku
BUKAN BERHENTI TAPI SEKEDAR INGIN BERTEPI
Masih saja ku disini
Bermanja-manja dengan malam
Bukan ku tak ingin beranjak
Hanya saja sudah lelah berlari
Lihat mereka dengan segala kesenangannya
Hey bulan,hey bintang aku gimana dong?
Keakrabanku pada kecewa membuatku lupa
tentang rasa bahagia
Ingin sekali bernostalgia dengan aroma kopi
Dicumbui matahari
Ku tak mampu melampaui
Dengan apa yang seharusnya dipahami
Mampu menjawab padahal tidak pernah bertanya
Mampu tersenyum padahal menurutku tak ada
yang patut untuk disyukuri
hingga harus terus diuji
Entah berapa sudut yang pernah kusinggahi
Aku takut disini sendiri
Mohon temani aku untuk membunuh kalut
Aku bukan ingin pergi tapi hanya ingin untuk
sekedar bertepi
MUCIKARI HATI
Rentetan waktu rentangkan peristiwa
Mendamparkanku di persimpangan perumpamaan
Biarkan ku berkata sungguh untuk kali ini saja
Endapan makna membekukan rasa
Kuselipkan tanya di ranting tak berdaun
Aku tampan? katakan ya jika memang
Bara sekam kian menguap
Meski diperciki sandiwara hati,tetap saja
terkuak
Dulu seatap namun tak seringkalipun bertata
Sumbu akan menghitam
Batangpun semakin melepuh
Perlahan akanlah padam lilin cinta terlarang ini
Aku mohon kembali padanya
Menggerutu dilengkungan tak bersudut
Prosa hitam antara abu
Antara aku atau dia
Terjerembab diselaksa dua pria
Hanya sekedar senyum seringai saja
Engkau kembali
Engkau dengannya
Aku mencari yang lainnya
Tak ingin menjajakkan rayu sebagai petisi
Karena aku bukan mucikari hati
BAWA AKU PULANG
Entah berapa ribu pagi terlewatkan
Daun kering telah menyeka keringatku
Remah di gang kotor sempat kupunguti
Mungkin sebuah arti tak selalu berarti
Melambung dan mengambang
Lunglai mecari garis yang benar-benar lurus
Sekat-sekat terbatasi sandiwara tipis
Aku sendiri
Pun dengan mereka
Sejengkal dari pintu adalah belantara
Bosan dengan kepura-puraan
Tadi sore aku bernostalgia
Senja ramah
Dejavu tentang masa lalu
Bawa aku pulang
Takutku terwujud
Jalanku terkelok jauh dari jalanMU
Bawa aku pulang
Penat berkelalawar
Kepul asap putih keluar bergumul dengan angin
Secangkir kopi tanda sapa kepada sang pagi
Bawa aku pulang
Segera